“Hiduplah Seperti Pohon Kayu Yang Lebat Buahnya, Hidup Di Tepi Jalan Dan Dilempari Orang Dengan Batu, Tetapi Dibalas Dengan Buah” (Abu Bakar Sibli)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anwar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anwar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Mei 2014

Ulang Tahun Anwar

            Dengan suara malasnya dan sambil menutup kembali badannya dengan selimut anwar kembali melanjutkan tidur indahnya.
            “ya, Bu, lima menit lagi dah soalnya saya masih ngantuk nih.” Jawab Anwar.
            “Ya, Allah, anak ini sudah berapa kali dibilangin cepet bangun, ayahmu udah nunggu tu dari tadi, kan katanya mau pergi jalan-jalan ke Malimbu,” teriak ibunya dari luar.
            Dengan agak sedikit terkejut, Anwar langsung bangun meskipun dengan mata masih tertutup kemudian mengambil handuk menuju ke kamar mandi. Tapi karena dengan mata yang masih tertutup, dia malah nabrak tembok gara-gara dikira pintu kamar mandinya.
            “waduh, sial sekali tembok ini hadang jalan saya, pintunya mana nih,”kata Anwar sambil mulai membuka matanya sedikit demi sedikit.
            Setelah selesai mandi, Anwar kemudian siap pergi jalan-jalan bersama Ayahnya karena sudah di janjikan sejak sebelum selesai semester. Maklum jalan-jalan ini sebagai hadiah bagi Anwar karena bisa memperoleh peringkat pertama di sekolahnya. Meskipun sebenarnya Anwar bisa di bilang agak malas tapi ternyata di balik itu semua, dia mempunyai pengetahuan yang lumayan hebat. Tapi yang jadi penyakitnya sejak dulu adalah dia sangat sulit dibangunkan kalau pagi. Tapi jangan salah, dia kayak gitu karena dia suka begadang untuk mengulang pelajaran yang sudah diberikan sama guru sampai larut malam. Yang bisa dibilang penyakitnya juga adalah anwar rajin shalat malam tetapi karena selesai shalat malam tidur lagi, dia sering kelolosan shalat subuh.
            Ketika semuanya sudah siap, Anwar dan ayahnya siap berangkat menuju Malimbu, tempat wisata yang dianggap paling menyenangkan bagi Anwar. Karena cuma di sana tempat wisata yang Anwar tahu saking tidak pernah sama sekali pergi berwisata. Jadi hari itu sangat spesial bagi Anwar karena hari itu juga merupakan hari ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Anwar  baru kedua kalinya pergi ke Malimbu setelah dulu waktu perpisahan pada saat mau tamat SMP.
            Anwar kemudian meluncur bersama Ayahnya menuju tempat wisata Malimbu dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Di perjalanan sambil ngobrol bersama Ayahnya dia menyempatkan untuk memotret kegiatan-kegiatan orang-orang yang dilihatnya. Dengan menggunakan hp nokia 7610 atau Hp daun dia memotret apa yang dianggap lucu selama perjalanan menuju tempat wisata. Dia tidak segan-segan menyuruh ayahnya berhenti apabila melihat kejadian-kejadian menarik yang di temui selama perjalanan. Maklum selain hobinya sepak bola dia juga pengen jadi fotografer meskipun hasil jepretannya bisa dibilang apa adanya tapi Anwar merasa bangga dengan hasilnya, bangga dengan hasil karyanya sendiri.
            Di tengah perjalanan Anwar tiba-tiba menyuruh ayahnya berhenti karena melihat sesuatu yang menarik. Ada sesuatu yang sedang dilihat oleh warga sekitar.
            “stop. . . stop. . . stop… “kata Anwar pada ayahnya.
            “Ada apa kok tiba-tiba berhenti di sini, jawab ayahnya heran.
            “sebentar yah, tunggu disini ya, saya mau ke tempat yang banyak orang itu, saya penasaran ada apa disana, “kata Anwar.
            “Yea, sudah, cepet ya soalnya perjalanan masih jauh ni,” jawab ayahnya.
            Ketika anwar sampai ditempat banyak orang itu, alangkah jengkelnya anwar ternyata yang dikerumuni itu adalah orang jual obat sedang menjajakan barangnya.
            “waduh, kirain apaan tadi, ternyata oarng jual obat, sungguh ter...ter…lalu,” kata anwar agak sedikit jengkel.
            Setelah itu dia langsung balik menuju tempat ayahnya menunggu.
            “Ada apa War, kok kusut banget mukanya kayak dompet datang bulan,” Tanya ayahnya sedikit mengejek.
            “Ternyata cuman orang jual obat yah, ndak penting banget,”jawab anwar.
            Oke sudah kita lanjutkan perjalanan,”kata ayahnya.
            Yea,,, yea,,, yea,,, “jawab anwar singkat.
****
            Setelah kira-kira 2 jam perjalanan akhirnya anwar sampai juga ketempat tujuan yaitu pantai Malimbu, pantai yang menurut anwar sangat menarik perhatiannya apalagi ini adalah kali kedua dia menginjakkan kakinya lagi setelah dulu pergi waktu masih SMP.
            Anwar langsung ganti baju tanpa ada rasa lelah karena lama di dalam perjalanan, dia berfikir bahwa di hari ulang tahunnya yang sekarang, dia harus bersenang-senang sepuasnya karena belum tentu dia bakalan balik lagi santai kepantai malimbu. Jadi ini adalah kesempatan untuk melepaskan rasa rindu pada pantai tersebut.
            Anwar kemudian langsung bermain-main dengan ombak yang lumayan bersahabat karena cuacanya juga lagi bagus, jadinya bisa dibilang hari tersebut merupakan hari yang sangat baik untuk pergi santai.
            Begitu sudah merasa puas dengan senang-senangnya, anwar kemudian membeli pop mie untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karena lamanya bermain-main dengan air. Ayahnya yang sudah lama menunggunya di warung hanya tersenyum melihat kesenangan yang terlihat dari wajah anaknya, dalam hatinya dia berkata, “Alhamdulillah, ternyata anwar sangat senang hari ini, semoga di ulanga tahunnya yg sekarang bisa membawa manfaat bagi dirinya dan orang tuanya, amien, “doa ayahnya sambil memandangi anaknya yang sedang menyantap pop mie dengan lahapnya.
            Setelah kira-kira hampir 4 jam bersenang-senang di pantai Malimbu, tiba waktunya untuk pulang karena anwar udah capek berat. Setelah perlengkapan selesai di bereskan anwar pulang dengan perasaan senang sekaligus capek tapi rasa senangnya bisa mengalahkan rasa capeknya karena untuk pertama kalinya di hari ulang tahunnya bisa pergi santai ke tempat wisata idamannya.


Minggu, 06 Oktober 2013

Indahnya Kebersamaan Bersama Sahabat



          Langit biru memayungi kawasan desa Kawo yang indah akan pemandangan sawahnya. Matahari senyum berseri mengiringi kokok ayam pagi. Hujan yang turun semalaman kini telah berhenti. Tanah masih basah dan rumput masih tampak berselimutkan embun pagi, segar dan bercahaya.
          Sekumpulan anak remaja kelihatan seperti menunggu seseorang didepan sebuah rumah sederhana tapi bernilai artistik yang lumayan tinggi. Diatas berugaq di samping rumah, tampak seorang remaja berbaring bermalas-malasan.
          Berkali-kali ibunya memanggil, tetapi ia seperti tak mengacuhkannya. Rupanya ia terlena kembang tidur yang didendangkan oleh hujan semalaman. Sehabis shalat subuh tadi ia terpaksa pindah tidur di berugaq. Maksudnya, supaya ia cepat bangun apabila teman-temannya datang menjemputnya. Ia telah sepakat untuk pergi santai ke pantai senggigi bersama Siska, Myla, Alda, dan lima orang teman yang lain.
          Seorang wanita keluar dari pintu samping rumahnya kemudian menghampiri berugaq. Ia agak kesal karena panggilannya tak dihiraukan oleh anak itu.
          “War ! Anwar !” panggilnya kepada anak itu sambil menarik-narik kain sarungnya.
          “Ha  …!”. Ia agak terkejut dan duduk menatap tajam setajam silet kepada ibunya.
          “Sudah jam delapan nih, katanya kamu mau pergi ke senggigi,” lanjut ibunya tanpa menunggu reaksi anak itu.
          “O, ya …., apa teman-teman sudah datang , Bu ?” tanyanya dengan nada terkejut sambil mengusap matanya.
“Mereka sudah menunggu tuch, di halaman depan,” jawab ibunya.
          Bersamaan dengan itu Siska, Myla, Alda dan teman-temannya yang lain sudah berada tidak jauh dari berugaq.
          “Ah, bagaimana ini, Pak Presiden (sebutannya kepada Anwar) belum bangun nech, sementara anak buah sudah pada kumpul?” olok Alda yang oleh temannya dijuluki si gadis centil.
          “Tuh, bagaimana kata temanmu, sana cepat mandi !” ujar ibunya.
          “Alda, ajak teman-temanmu duduk di berugaq dulu sambil menunggu Anwar” kata Ibu Anwar kepada Alda.
          Tanpa canggung-canggung Alda segera memepersilahkan teman-temannya duduk di berugaq itu. Alda masih bersaudara sepupu dengan Anwar. Jadi, ia tidak merasa asing lagi di rumah itu alias seperti rumah sendiri gitu lho.
          “Alda !” panggil wanita itu dari balik pintu dapur.
          “Ya, Bi,” sahut Alda sambil berlari masuk ke dapur. Selang beberapa menit Ia sudah keluar sambil membawa nampan dan beberapa cangkir berisi kopi. Sementara itu wanita tadi berjalan di belakangnya sambil membawa nampan berisi ubi rebus yang baru diangkat dari dandang. Asapnya masih mengepul dan baunya sedap sehingga membangkitkan selera makan.
          “Ayo, silahkan, Nak !” kata wanita itu kepada mereka ramah, dan ia pun kembali kedapur.
          “Ini, pasti yang tidak bisa makan “ambon” hanya Myla?” ejek Alda kepada Myla, gadis putih yang baru sebulan lalu pindah dari Surabaya ke sekolah mereka. Tapi ia cepat akrab dengan teman-temannya.
          “Apa itu ambon ? Ibu kota Maluku yea. Saya memang tidak bisa makan ambon,” katanya serius.
          Ketika itu teman-temannya yang lain malah tertawa cekikikan mendengar jawaban polos dari myla.
          “Lho, kenapa kalian tertawa, aku serius nech !” kata Myla
          “Sebentar dulu, jangan marah dulu yea neng” sela Siska,” Ambon itu kalau di Lombok, yea ini !”, lanjut Siska sambil memandang ubi rebus itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
          “Oh…. Jadi,” ia tak meneruskan ucapannya dan tersipu malu.
          “Iya… ambon itu yea ubi, jadi bisa nggak kamu makan ambon?” ujar Alda.
          “O, tentu saja bisa bangget dong,” sahut Myla sambil memegang ubi dan memakannya bersama teman yang lain.” Ada-ada saja,” katanya dalam hati.
          Ketika sedang asyik bersenda gurau serta bercanda di berugaq, Anwar pun muncul dari pintu depan. Pakai kaos bertuliskan I Love You Lombok. Kaos semacam itu banyak dijual dimana-mana. Anwar terus melangkah mendekati teman-temannya. “E, Pak Presiden sudah datang nech, kaosnya keren banget tuch,” puji Alda.
          “Woessss… siapa dulu dong, Anwar gitu Loch,” kata Anwar sok keren.
          “By the way, bagaimana dengan rencana kita selanjutnya”, ujar Anwar, “ Siap berangkat ?”
          “Ah, ngusir nih !” sela Siska
          “Bukannya ngusir bro, tapi jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Kalau kesiangan nanti kita kepanasan di jalan,” kata Anwar.
          “Baiklah, kawan-kawan, siap berangkat sekarang?” Tanya Alda.
          “Siap!” jawab mereka serentak plus semangat. Setelah permisi kepada Ibu Anwar, mereka meninggalkan rumah itu ke arah barat menuju Pantai Senggigi.
****
          Pantai Sesnggigi merupakan tempat wisata yang termasuk paling terkenal di Pulau Lombok, banyak para wisatawan asing santai-santai dan berjemur di pantai tersebut. Berjejer seperti ikan yang di Jual di Pasar. He… he… he…
          Setelah hampir 2 (dua) jam perjalanan akhirnya sampailah mereka di Pantai Senggigi, mereka langsung ganti baju dan mandi di pantai tersebut, maklumlah orang desa baru pertama kali ke Pantai jadinya tanpa pikir panjang lagi langsung menceburkan diri di Pantai.
          Anwar langsung geleng-geleng kepala melihat temannya yang baru sampai tapi langsung mandi tanpa istirahat terlebih dahulu.
          “Waduh… waduh… apa ndak sebaiknya kita istirahat dulu ?” tanya Anwar kepada temannya.
          “ Tidak usah lah, biarkan sudah mereka senang-senang, toch juga tujuan kita ke sini kan buat santai,” ujar Alda membela.
          “yea sudah kalau begitu,” jawab anwar sambil duduk di bawah sebuah pohon kelapa didekat pantai.
          “Pak Presiden ndak mandi?” Tanya Siska dari tepi pantai.
          “Lanjutkan bro, saya mau istirahat dulu”, jawab Anwar sambil menikmati pemandangan sekitar pantai.
          “Oke, Pak Presiden”, jawab Siska kemudian melanjutkan bermain air bersama teman-teman yang lain.
          Setelah beberapa lama, karena sudah merasa cukup dengan istirahatnya, Anwar langsung ikut bergabung bersama teman-temannya yang lain.
          “Teman-teman, I’m Coming,” kata Anwar sambil berteriak berlari menuju temannya di air

****
          Hampir 1 (satu) jam mereka bermain di air, mereka kemudian istirahat dan langsung memesan nasi untuk mengisi perut mereka yang super lapar setelah lama bermain.
“Teman-Teman pesan apa?” Tanya Anwar kepada teman-temannya.
“Pop Mie Pak Presiden”, jawab Alda dan di ikuti oleh teman-teman yang lain.
          Tidak menunggu terlalu lama Pop mie telah tersedia dengan bau yang insya Allah menggugah selera makan. Mereka makan dengan lahapnya sambil bercanda ria. Di sanalah terlihat kebersamaan diantara mereka, memang kalau bersama sahabat, silaturrahmi akan tetap terjaga dan semakin erat. Sahabat memang luar biasa.
          “Terima kasih sahabat-sahabatku”. Kata Anwar dalam hati sambil melihat keceriaan diantara teman-temannya.
****
          Jam sudah menunjukkan pukul 13.40 wita. Anwar, Alda, Myla, Siska dan temannya yang lain sudah berkumpul di sebuah mushala. Mereka akan melaksankan shalat Zuhur.
          “Alda, kamu bawa mukena?” tanya Anwar kepada Alda.” Kita shalat zuhur dulu” lamjutnya.
          “Ya, jam berapa?” tanya Alda.
          “Sudah jam 13.40 nih,” jawab Anwar.
          Setelah mereka mengambil air wudu, mereka kemudian shalat berjamaah dengan Anwar sebagai imamnya.
          Lima belas menit kemudian, mereka sudah selesai shalat dan bersiap-siap untuk meninggalkan Pantai senggigi.
          “Alhamdulillah, setelah kita santai seperti ini, semoga kita semakin kompak yea,” ujar Anwar.
          “Amien, “ jawab Alda dan didikuti oleh teman-temannya yang lain.
          “Besok kalau ada kesempatan, kita kesini lagi yea, “ kata Myla dengan semangatnya.
          “Pastinya dong, “ jawab Anwar meyakinkan.
          Mereka terus berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motor, akhirnya setelah semua sudah naik. Mereka meluncur menuju rumah tercinta dengan perasaan gembira dan merasa puas.

Kerinduan Alda




            Malam itu suasana hati Alda tidak seperti biasanya. Angin malam yang berhembus membisikkan sesutau yang tidak mengenakkan sesuai dengan keadaan hatinya yang tidak tenang. Sinar bulan menerangi suasana hatinya yang sedang galau. Semakin memperjelas suasana ketidak tenangan hatinya di malam itu.
            Seorang wanita keluar dari balik pintu dan menghampiri Alda yang sedang merenung.
            “Apa yang sedang kamu fikirkan Nak, “ tanya wanita itu halus.
            Dengan agak sedikit kaget, Alda menjawab pertanyaan wanita itu.
            “Owh… Ibu, bikin kaget ajha, “ jawab Alda. “Perasaanku lagi ndak enak malam ini, Bu,” lanjut Alda.
            “Kalau Ibu boleh tau, ndak enak karena apa,” Tanya ibunya lagi sambil mengelus rambut Alda yang terurai panjang.
            “Aku sedang memikirkan Bapak, Bu, apakah bapak sayang sama aku?” tanya Alda sambil memandang ibunya.
            Mendengar pertanyaan anaknya, wanita itu kaget hampir pingsan tapi masih bisa menahan dirinya. Dengan nada tenang, kemudian menjawab pertanyaan anaknya.
“Kok, Alda tumben menanyakan Bapak,” kata ibunya tenang.
            “Ya, Bu. Soalnya teman-temanku sangat bangga kepada Bapaknya, sedangkan aku, melihat Bapak saja tidak pernah, “ jawab Alda dengan mata yang berkaca-kaca.
            Sesaat kemudian, Ibunya langsung meneteskan air mata tidak bisa menahan kesedihannya, padahal sebelum suaminya meninggal dulu, ia telah berjanji untuk tidak menangis didepan anaknya ketika suatu hari nanti anaknya menanyakan tentang dirinya.
            Melihat ibunya meneteskan air mata, Alda langsung memeluk ibunya sambil menangis tidak bisa menahan air matanya. Alda memeluk erat Ibunya. Sehingga tercipta suasana hati yang sama diantara keduanya.
            “Maafkan aku Bu, saya tidak bermaksud membuat Ibu menangis,” kata Alda sambil mengusap air mata ibunya.
            “Ya, tidak apa-apa Nak, memang sudah saatnya kamu mengetahui seperti apa Bapakmu dulu,” jawab ibunya sedih.
            “Tapi kalau gara-gara ingat Bapak. Ibu jadi sedih. Ndak apa-apa ibu ndak usah kasih tau aku gimana bapak dulu,” kata Alda berusaha menenangkan ibunya.
            “Kalau ibu ndak kasih tau kamu, ibu merasa berdosa sama bapakmu, soalnya dulu bapakmu sempat bilang kalau kamu sudah besar maka ibu di suruh untuk menceritakan tentang dia,” kata Ibunya.
            Tak terasa malam sudah semakin larut, mereka larut dalam kesedihan. Alda juga kelihatan ngantuk karena agak capek soalnya tadi pagi dia ikut lomba lari disekolahnya.
            “By the way, aku udah ngantuk Bu, aku tidur dulu ya soalnya besok kan hari senin dan ada upacara bendera, jadinya aku harus cepat bangun,” kata Alda mengalihkan pembicaraan.
            “Ya, sudah kalu begitu, Nak. Selamat tidur yea,” kata Ibunya.
            “Ibu ndak tidur?” Tanya Alda sambil melihat ibunya.
            “Alda duluan aja, soalnya Ibu mau ke dapur sebentar,”jawab ibunya.
            Alda kemudian masuk kekamarnya dengan membawa rasa kantuk yang sangat, setelah wudu’ terlebih dahulu kemudian langsung tidur dengan lelapnya.
            Ibunya yang masih didapur mencuci beberapa piring kemudian setelah selesai kemudian masuk kamar untuk tidur. Dalam hatinya dia berdoa “Ya Allah, Semoga Alda tidak sedih lagi.”
****
            Dalam kesendirian di kamarnya, Alda kembali teringat akan Bapaknya yang tidak sempat dia lihat, malam itu malam dimana Bapaknya pergi menghadap sang pencipta dalam suasana yang begitu menyedihkan  tanpa sempat memberikan sesuatu yang berarti untuk keluarganya. Cita-cita yang tertanam dalam hatinya belum sempat direalisasikan karena sang malaikat maut tanpa peduli membawanya untuk mempertanggung jawabkan apa yang diperbuat di hadapan Tuhan. Itu terasa terlalu cepat untuk sebuah keluarga yang serba kecukupan.
            Dalam kesendirian itu, Alda duduk termenung disebuah taman yang sangat indah dengan berbagai macam bunga, pohon-pohon yang berbuah banyak, disampingnya mengalir mata air yang sangat jernih tanpa diketahui dimana asalnya.
Ketika duduk termenung, seorang laki-laki berpakain serba putih menghampirinya.
            “Lagi apa disini, Nak,” kata laki-laki itu ramah.
            “Aku sedang sedih Pak,”jawab Alda tanpa menanyakan siapa laki-laki yang bertanya itu
            “Kenapa kok bisa berada di sini?” lanjut laki-laki itu.
            “Saya juga ndak tau Pak, ketika saya sedang jalan-jalan. Saya melihat taman yang indah ini,” jawab Alda.
            “Apa kamu suka tempat ini?” Tanya laki-laki itu serius.
            “Ya, saya suka Pak, soalnya ketika saya berada disini. Saya merasa tenang tanpa ada beban sedikitpun,” jawab Alda dengan muka agak ceria.
            “Kalau kamu mau tinggal disini, ikut sama Bapak aja soalnya Bapak tinggal disini,”kata laki-laki itu.
            “Saya sebenarnya mau banget Pak, tapi saya mau tinggal bersama Ibu saya juga. Soalnya kasian kalau saya tinggal ditempat indah seperti ini tapi Ibu saya tinggalnya sendiri di rumah,”jawab Alda agak sedih.
            “Kalau begitu kamu panggil Ibumu supaya Kita bisa tinggal bersama di tempat ini,”kata laki-laki itu.
            Belum sempat menjawab laki-laki itu, Alda terbangun dari tidurnya sambil terkejut.
            “Astagfirullah hal’azim, , , Astagfirullah hal’azim, , , “. Ucap Alda sambil duduk sambil bersandar ditembok kamarnya.
            “Saya cuma mimpi,” kata Alda.
            “Mimpi apa saya tadi, kok tumben saya bermimpi seperti itu,” kata Alda heran.
            “Ya Allah, semoga Mimpi saya tadi pertanda baik, amien,” Do’a Alda sambil mengusapkan telapak tangan keseluruh badannya.
            Alda melihat jam dinding yang ada ditembok samping kanan tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Tanpa pikir panjang Alda langsung bangun dan mengambil air wudu. Dia bermaksud untuk melaksanakan shalat malam. Setelah dia selesai wudu dia kemudian mengambil mukenah dan mulai melaksankan shalat. Ketika melaksanakan shalat tanpa di sadari Alda meneteskan air mata. Didalam kesunyian malam hati Alda tiba-tiba bergetar dan membuat air matanya semakin bercucuran tak terkendali. Selesai shalat Alda kemudian berdo’a.
            “Ya Allah, jika engkau menyayangi hambamu ini, perkenankanlah hamba untuk bertemu dengan bapak hamba di surga kelak,” ujar Alda di dalam do’anya sambil meneteskan air mata.
            “Berikanlah kebahagiaan di dalam keluarga hamba meskipun hamba hidup di dalam kekurangan, dan panjangkanlah umur Ibu hamba supaya bisa membimbing hamba dalam menjalai hidup di dunia ini serta pembimbing hamba di dalam melaksanakan hal-hal yang bermanfaat bagi agamamu,” lanjut Alda didalam do’anya.
            “Ya Allah, berikanlah perlindungan kepada hamba dari kezaliman orang-orang yang benci kepada hamba, dan semoga hamba tidak pernah menzalimi orang lain dengan tingkah laku hamba,” Ucap Alda yang semakin terlarut di dalam do’anya.
            “Ya Allah, lindungilah hamba dari perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain baik yang hamba sengaja maupun yang tidak hamba sengaja, dan semoga hamba bisa bermanfaat bagi orang lain terutama bagi keluarga hamba sendiri,” yang semakin mencucurkan air mata di dalam do’anya.
            “Ya Allah, terimalah do’a hamba karena hanya engkaulah tempat hamba memohon dan meminta pertolongan, Amin,” kata Alda menutup do’anya sambil mengusapkan kedua tangan ke wajahnya.
            Selesai melaksanakan shalat Alda melanjutkan untuk membaca Al-Qur’an. Alda sangat menghayati bacaan Al-qur’an sambil merenungkan artinya sampai-sampai tanpa di sadari kembali mengelurkan air mata.
            Malam itu terasa sangat berbeda dari malam yang biasanya karena Alda merasakan ketenangan hati dan sungguh sangat terasa nikmatnya dalam melaksankan shalat. Alda tidak henti-hentinya bersyukur kepada Allah Swt. Karena telah diberikan ketenangan hati seperti pada malam itu.
            Setelah selesai melaksanakan ibadah Alda kemudian melanjutkan untuk tidur berhubung jam menunjukkan Pukul 03.30 dini hari.
****
     Ketika adzan subuh berkumandang Alda segera bangun untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Alda tidak pernah absen untuk melaksanakn shalat subuh kecuali kalau sedang berhalangan. Alda berangkat bersama ibunya yang sudah menunggu di halaman rumah. Setelah siap, berangkatlah Alda bersama ibunya ke masjid ditengah dinginnya pagi yang menusuk sampai ke tulang-tulang.
     Alda memang anak yang rajin dan berbakti kepada ibunya, berhubung bapaknya sudah tiada tetapi dia tidak mengetahui apapun mengenai bapaknya. Yang ia tahu bahwa bapaknya pergi tetapi entah pergi kemana. Pergi merantau kenegeri orang ataukah pergi karena telah bercerai dengan ibunya ataukah pergi ke hadirat yang maha kuasa. Hal itu tidak membuat Alda untuk terus menanyakan dimana bapaknya. Karena tidak ingin membuat ibunya menjadi sedih seperti yang sudah-sudah.
     Dia sangat menghormati ibunya. Oleh karena itu, dia tidak ingin membuat ibunya mengeluarkan air mata karena menanyakan keberadaan bapaknya. Dia trauma karena pernah membuat ibunya sampai mengeluarkan air mata gara-gara menanyakan bapaknya.
     Biarlah bapaknya cukup dipikirkan dalam otaknya saja, tidak untuk dikeluarkan. Meskipun sebenarnya setengah dari otaknya menyimpan beribu pertanyaan mengenai bapknya yang tidak pernah dia lihat. Dia hanya berharap kepada sang Maha Kuasa supaya ibunya diberikan kemauan atau keikhlasan untuk mau menceritakan kemana sebenarnya bapaknya yang selama ini dia pikirkan disetiap malam menjelang tidurnya. Yang dia bisa rasakan hanyalah rasa rindu yang terus menerus menghampirinya.

Copyright @ 2013 (Anwar Sadat )_Abadikan Nama dengan Menulis.